Siapa Junghuhn?
Who is Junghuhn?
Wer ist Herr Junghuhn?
Pertanyaan di atas pasti terlontar oleh mereka yang tidak mengetahui sosok pria yang hidup pada tahun1809-1804 ini. Saya pun awalnya mengira Junghuhn adalah orang Korea dengan penulisan lama Jung-Hoon, bukan Junghuhn. Itulah yang ada di benak saya ketika ditawari untuk menjadi panitia simposium peringatan 200 tahun Junghuhn. Lalu pikiran saya selanjutnya, waaah asiiik bisa ketemu orang Korea, mengingat biasanya kalau ada acara mengenang 100 tahun 200 tahun beginian pasti melibatkan orang-orang dari negara asal orang yang diperingati itu.
Namun pas lihat fotonya, ternyata jauh banget dari muka orang Asia Timur. Mukanya bule sekali, dan ternyata bukan Jung-Hoon, melainkan Junghuhn, dengan nama panjang Franz Wilhelm Junghuhn.

Franz Wilhelm Junghun (source: Wikipedia)
Seperti yang dilihat dari gambar di atas, sangat jauh sekali untuk digolongkan sebagai warga Korea, hahahahaa… Junghuhn merupakan blasteran Belanda-Jerman, dengan kewarganegaraan Jerman. Beliau lahir di Mansfeld. Putra sulung seorangan dokter dan pemangkas rambut. Awal tahun 1829, dia drop out dari sekolahnya dan sempat mencoba bunuh diri, yang konon katanya dipicu gara-gara bertengkar dengan ayahnya.
Namun setahun kemudian ia kembali kuliah di kedokteran Berlin. Karirnya diawali dengan menjadi serdadu di Aljazair. Namun ga lama setelah itu ia berhenti dan mengambil ujian kedokteran hingga diangkat menjadi Dokter Militer kelas III pada pasukan kolonial Belanda. Ada informasi bahwa ia memang berniat menjadi dokter militer supaya bisa ke negara-negara jajahan Belanda, termasuk Indonesia.
Bener aja, tahun 1835 Junghuhn tiba di Batavia. Selama masa tugasnya ia bekerja di Rumah Sakit Yogyakarta. Di samping tugasnya, Junghuhn yang memang menyukai alam menyempatkan diri untuk mengunjungi berbagai daerah di Jawa, sebut saja Rongkop, Imogiri, Prambanan, Salatiga, Magelang, dan Borobudur, semua pernah dikunjunginya.
Dengan dana yang terbatas, Junghuhn tetap menjelajahi Jawa yang saat itu masih penuh dengan hutan belantara. Ia pun menyusuri Pelabuhan Ratu, Priangan, Cirebon, serta meneliti gunung-gunung di Pulau Jawa seperti Patuha, Tangkuban Perahu, Papandayan, Galunggung, dan Ciremai. Hanya ada tiga gunung yang tidak sempat dijelajahi Junghuhn, selebihnya semua dijelajahinya.
Perjalanan Junghuhn bukan sekedar pelesiran atau piknik ya. Selama perjalanannnya ia mencatat dan menggambar semua keindahan alam, mulai dari hal-hal berbau botanis, hingga kontur gunung yang dijelajahinya. Karena tidak punya dana untuk membeli peralatan yang menunjang ekspedisinya, Junghuhn menggunakan peralatan seadanya. Sebagai contohnya untuk menggantikan barometer, ia menggunakan potongan bambu dan gelas kaca, tidak diketahui cairan yang digunakan Junghuhn, dan benda ‘barometer’ tersebut harus tetap dijaga agar cairannya senantiasa datar meskipun harus mendaki gunung-gunung terjal. Hebat ya semangatnya…
Dari hasil perjalanannya tersebut ia menghasilkan peta pulau Jawa yang sangat spesifik. Bahkan jika dibandingkan dengan foto NASA tahun 2007, tidak banyak perbedaannya. Peta tersebut sangat detail, mulai dari ketinggian gunung, kontur-konturnya hingga jumlah penduduk pada saat peta dibuat. Tahun 1845, saat itu, daerah bernama Ujung Berung Kulon (sekarang di tempat itu berdirilah ITB) memiliki sensus 18.000 jiwa, sementara Banjaran 17.000 jiwa, dan Ujung Berung Wetan 12.000 jiwa. Kota-kota besar seperti Surabaya, Semarang, dan Jakarta masing-masing dihuni oleh 100.000, 70.000, dan 59.000 jiwa. Selain peta, Junghuhn juga membuat diagram profil ketinggian Pulau Jawa, perbandingan antara gunung yang satu dan gunung lainnya begitu memukau, ia pun membuat perbandingan jika pulau jawa ditenggelamkan hingga 100.000 kaki ke dalam laut (notes: pada kedalaman 2000 kaki, Bandung akan menjadi kota pelabuhan).
Perjalanan Junghuhn tidak cuma di Pulau Jawa, ia pun akhirnya diangkat menjadi peneliti dan diberi tugas untuk ekspedisi di Sumatera Utara. Ia menghasilkan buku mengenai Tanah Batak.
Junghuhn diangkat menjadi anggota Komisi Alam pada tahun 1844. Tahun 1848-1855 Junghuhn kembali ke Eropa, tepatnya ke Belanda. Koleksi lengkapnya mengenai botanika, geologi, dan palaentologi ia jual ke Universitas. Ia lalu menganalisis gambar-gambar mengenai Jawa yang tujuh tahun kemudian lahirlah sebuah buku menganai Jawa dalam bahasa Belanda. 1850, Junghuhn menikah. Dua tahun kemudian ia kembali menelurkan buku dengan judul “Jawa, Sosoknya, Ragam Tanaman, dan Komposisi Internal” dalam bahasa Jerman.
1855, Junghuhn meninggalkan Benua Eropa untuk selama-lamanya.
Juni 1856, Junghuhn kembali ke Tatar Parahyangan, menjadi kepala budidaya Kina. Disinilah para Biologist mengenal Junghuhn bahwa ia seorang Botanist dan orang yang memperkenalkan, menanam, dan membudidayakan Kina, bahan baku untuk obat Malaria. Junghuhn lalu bermukim di Lembang pada tahun 1857 dan kemudian meninggal pada tanggal 24 April 1864. Sebelm ia menghembuskan napas terakhirnya, ia meminta kepada sahabat terbaiknya untuk membuka jendela supaya dia bisa menatap Tangkuban Perahu dan menghirup udara pegunungan yang bersih.
Perjalanan Junghuhn di atas ialah informasi yang sangat berharga yang saya dapatkan saat menjadi panitia Exhibition and Symposium of Franz Wilhelm Junghun, explorer of The Island of Java. Banyak hal yang saya ketahui, seperti sosok Junghuhn yang tidak hanya seorang Botanist, namun juga seorang Kartografis, Geologis, dan ahli Klimatologis. Junghuhn juga seorang pelukis alam yang hebat, ia selalu menggambarkan gunung-gunung yang didakinya tanpa melupakan detail-detail kecil. Hebatnya lagi ia tidak pernah mengenyam pendidikan tersebut di pendidikan formal, semuanya ia pelajari sendiri.
Tahukah kamu, semua informasi otentik milik Junghuhn mengenai Pulau Jawa dan Tanah Batak masih tersimpan rapi di Perpustakaan di Belanda?
Tahukah kamu, bahwa Junghuhn dengan susah payah membudidayakan Kina agar bermanfaat bagi penduduk Jawa, namun sekarang pabrik-pabrik Kina di Jawa Barat malah membeli Kina dari Afrika?
Tahukah kamu, cinta Junghuhn kepada Pulau Jawa sangatlah besar. Lalu kenapa kita yang sejak lahir, menghirup udara Jawa, menginjak tanah Jawa tidak begitu peduli dengan Pulau Jawa yang indah ini? Padahal Junghuhn menghabiskan separuh dari hidupnya untuk belajar mengenai daerah ini dan berharap ilmunya bisa digunakan untuk kehidupan orang banyak.
Junghuhn is a great man, really he is. Sadly, only few people know who is he. All his masterpieces about Java and Batak will disappear if we just sit silently and do not speak out loud that Junghuhn inherit precious knowledge to us.